Oct 4, 2023
・
Jale
Let us live, since we must die.
- Lucius Annaeus Seneca
Seorang filsuf stoik dari Yunani bernama Seneca pernah berkata, "Let us live, since we must die". Ungkapan tersebut terkesan kontradiktif. Namun apabila direnungi lebih jauh, ketimbang mencemaskan kematian yang bisa terjadi kapanpun, alangkah lebih bijak apabila kita lebih berfokus terhadap kehidupan yang sedang kita hidupi. Bukan tanpa alasan, jika kita lebih menghidupi hidup, sejatinya kita lebih mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian.
Ketika kita mati, bukankah kita tidak ingin rasa penyesalan hadir menyelimuti di saat-saat terakhir kita? Bukankah kita lebih ingin merasakan cinta, kasih sayang, dan emosi positif lainnya yang mengiringi kepergian kita? Oleh karena itu, marilah kita menghidupi hidup, karena kita pasti mati.
Penulis pada akhirnya memahami secara utuh ungkapan tersebut ketika mengikuti kegiatan Nation Building 2023 yang diselenggarakan oleh Djarum Beasiswa Plus yang merupakan salah satu program dari Bakti Pendidikan Djarum Foundation sebagai kegiatan penutup dari serangkaian pembinaan softskills bagi Beswan Djarum di setiap tahunnya.
Pada kegiatan ini, kami — Beswan Djarum Angkatan ke-38 — akan mengikuti serangkaian kegiatan untuk membangun rasa nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air melalui kunjungan kebudayaan — cultural visit — ke Kota Kudus dan juga menyelenggarakan pagelaran teatrikal tentang sejarah Bangsa Indonesia.
Lantas, bagaimana kegiatan tersebut membantu penulis memahami ungkapan dari Seneca? Sederhana, sebenarnya. Ketika mengikuti kegiatan tersebut, banyak perasaan yang datang silih berganti, salah satunya adalah rasa takut akan perpisahan. Penulis sadar betul bahwa perpisahan merupakan bagian dari pertemuan. Baik itu perpisahan yang bersifat sementara sebelum akhirnya berjumpa kembali ataupun perpisahan yang bersifat absolut — dalam hal ini, kematian merupakan contoh yang paling sesuai — dan tak terhindarkan, keduanya sama-sama harus disikapi dengan bijaksana. Salah satu cara untuk berdamai dengan rasa takut tersebut adalah dengan memahami secara utuh apa makna perpisahan yang sebenarnya.
Rasa takut akan perpisahan bisa timbul karena berbagai alasan, salah satunya adalah rasa takut bahwa kita akan kembali ke rutinitas keseharian kita dan mengarungi samudera kehidupan ini sendiran tanpa ditemani kawan-kawan yang menemani kita selama kegiatan tersebut berlangsung. Dalam menghadapi hal tersebut, penulis mencoba memahami setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi dan akhirnya sampai pada beberapa konklusi yang menjadi jawaban atas rasa takut tersebut.
Untuk bisa berdamai dengan perpisahan dan kesendirian, penulis mulai belajar memahami bahwa dalam hidup ini, semua orang akan selalu sendirian. Ketika kita bangun tidur dan membuka mata kita, meskipun ada keluarga yang hadir disekitar kita, tetap saja kita bangun dari tidur tersebut sendirian. Ketika berangkat kerja di pagi hari, ketika sarapan, ketika nongkrong, kita akan selalu sendirian. Semua orang memiliki kepentingan masing-masing, dan pada momen-momen tertentu dimana kita dikatakan 'bersama' adalah dimana kita memiliki kepentingan masing-masing yang saling beririsan satu sama lain, yang mengakibatkan kita bisa mencapai berbagai kepentingan pribadi tersebut secara bersama-sama yang terkadang seringkali disebut sebagai 'kepentingan bersama'.
Pemahaman terhadap kesendirian tersebut menuntun penulis untuk memahami poin penting selanjutnya, yakni adalah kesendirian bukan kondisi objektif, melainkan pandangan subjektif. Ketika kita merasa sendirian sebagai suatu entitas yang terlepas dari semesta, kita hanya akan merasa kesepian dan kesendirian. Akan tetapi, jika kita memilih untuk tetap terhubung baik dengan lingkungan di sekitar kita maupun dengan orang-orang yang terpisahkan oleh jarak ribuan kilometer jauhnya disana, apalah arti kesendirian itu? Ketika kita memahami kata sendiri, kesendirian, dan kesepian melalui perspektif ini, semuanya akan terlihat sedikit lebih tidak menyeramkan, bukan?
Untuk memenuhi keinginan agar senantiasa tetap terhubung, khususnya dengan kawan-kawan Beswan Djarum angkatan 38 di seluruh penjuru dunia, penulis hendak mengabadikan kenangan bersama kawan-kawan Beswan tersebut melalui tulisan ini. Karena terdapat salah satu peribahasa dalam bahasa Yunani, yakni: "Verba volant, scripta manent" yang artinya "Kata-kata lisan terbang, sementara tulisan menetap".
