Organisasi: Alat yang Memperalat atau Diperalat?

Organisasi: Alat yang Memperalat atau Diperalat?

Sep 27, 2023

Jale

Waste no more time arguing what a good man should be. Be one.

- Marcus Aurelius

Belakangan ini, marak sekali tren anak muda khususnya kalangan mahasiswa di Indonesia yang membahas sisi gelap dari organisasi kemahasiswaan, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan ormawa. Keskeptisan ini mulai muncul sejak hadirnya kehidupan mahasiswa pasca pandemi Covid-19 mewabah di seantero dunia.

Keskeptisan tersebut muncul bukan tanpa alasan. Pasalnya, dewasa ini, banyak sekali organisasi yang gagal melakukan regenerasi karena beberapa faktor. Mulai dari internal kepengurusan yang tidak terjaga stabilitasnya, pemimpin yang tidak bisa memimpin organisasinya dengan baik, sampai faktor eksternal seperti campur tangan alumni yang berlebihan, brand organisasi yang buruk dan non-benefisial di mata mahasiswa awam, dan beragam faktor lainnya yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Pada artikel ini, kita akan coba menelaah secara bersama-sama, apa yang sebenarnya menjadi permasalahan yang menyebabkan turunnya minat berorganisasi di kalangan mahasiswa saat ini dan bagaimana solusi terhadap permasalahan tersebut.

Secara terminologis, organisasi berasal dari kata organon yang diambil dari bahasa yunani yang memiliki arti 'alat' atau 'instrumen'. Kata organon ini diambil karena dirasa dapat merepresentasikan tujuan dari sebuah organisasi, yaitu 'alat' yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan yang sama.

Alih-alih menjadi alat yang dianggap sebagai batu loncatan untuk meraih suatu tujuan, saat ini organisasi malah cenderung 'memperalat' anggotanya dalam memenuhi 'tujuan organisasi' tersebut. 'Tujuan organisasi' yang dimaksud disini merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh pemimpin dari organisasi tersebut. Sekilas memang tidak ada salahnya jika suatu organisasi dikendalikan oleh pemimpin atau ketua yang sejatinya merupakan nahkoda dari organisasi tersebut. Akan tetapi, sekarang ini tidak sedikit organisasi yang dinahkodai oleh pemimpin yang memiliki tujuan yang cenderung oligarkis.

Oligarki, berasal dari padanan kata oligos - yang berarti sedikit - dan arkhos - yang berarti mengatur atau memerintah - yang diambil dari bahasa Yunani. Oligarki sendiri singkatnya merupakan suatu struktur kekuasaan dimana kekuasaan absolut berada di tangan segelintir orang. Jika diantara pembaca sekalian ada yang mengikuti serial anime One Piece, kalian akan lebih memahami konsep oligarki ini sebagai suatu subjek dengan kendali penuh atas semua yang ada di dunia One Piece, yaitu Gorosei. Mengapa konsep oligarki ini disandingkan dengan Gorosei? Pasalnya, meskipun terdapat banyak jabatan yang hadir di dalam organisasi angkatan laut One Piece, tetap saja kendali penuh dipegang oleh Gorosei ini.

Lantas. apa dampak dari organisasi yang dinilai menjadi boneka oligarki dari segelintir orang ini? Organisasi yang bersifat oligarkis akan selalu mengedepankan kepentingan kelompok dari pimpinan atau kelompok yang mendominasi ketimbang mengutamakan kepentingan bersama. Ketika yang dikedepankan adalah kepentingan perseorangan atau kelompok tertentu, arah navigasi suatu organisasi akan menjadi kabur yang mengakibatkan organisasi pada akhirnya hanya menjadi boneka politik saja. Hal tersebut menjadikan organisasi tidak lebih dari alat pemuas tiran yang sejatinya memperalat anggota dari organisasi tersebut untuk memuaskan hasrat tiran-tiran ini lebih jauh lagi.

Organisasi yang seperti itu sejatinya tidak akan menjadi tempat yang ideal untuk tumbuh dan berproses karena apapun yang dituju oleh organisasi tersebut akan berakhir pada kepuasan tiran-tiran yang disebutkan sebelumnya, dan hal ini sejatinya dipahami betul oleh mahasiswa-mahasiswa muda saat ini. Jika organisasi yang seharusnya dapat menjadi wadah bagi personalia anggotanya untuk tumbuh dan berproses guna meningkatkan soft skills maupun hard skills yang mereka miliki malah tidak bisa memberikan hal tersebut, maka apa gunanya masuk organisasi?

Krisis identitas organisasi tersebut pada akhirnya menjadi problematika berkepanjangan yang sampai saat ini kerap dijumpai pada organisasi-organisasi kemahasiswaan pada umumnya. Yang mulanya organisasi menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka anut terlepas dari sekeras apapun badai menerjang mereka, sekarang malah cenderung mengemis agar program kerja mereka diikuti oleh mahasiswa lain yang menjadi target segmentasi dari organisasi tersebut. Kalau sudah begini, sebenarnya organisasi itu alat, memperalat, atau diperalat?

Terlepas dari hal-hal prinsipal tentang memperalat atau diperalat tersebut, satu hal yang pasti, bahwasanya organisasi akan diminati apabila organisasi tersebut memang menarik minat mahasiswa. Banyak faktor yang bisa menarik minat mahasiswa tersebut, namun kali ini, kita akan menelaah faktor-faktor tersebut kedalam 3 bentuk analogis.

3 faktor analogis dari organisasi yang ideal adalah:

  1. Rumah yang Nyaman: jika organisasi dapat menjadi rumah yang nyaman bagi para anggotanya untuk bernaung, tanpa perlu diminta pun anggotanya akan datang atau pulang ke organisasi itu sendiri. Oleh karena itu, jadikan organisasi anda sebagai rumah yang nyaman untuk 'ditinggali'.

  2. Kapal yang Siap Berlayar: organisasi dalam bentuk analogis kapal yang siap berlayar berarti suatu tempat dimana para anggotanya dapat menjelajah atau bertualang mencari apa yang mereka inginkan dengan arah navigasi yang sama. Jika anggota organisasi diberikan kebebasan untuk bereksplorasi selama tidak bersebrangan dengan prinsipalitas organisasi, maka anggota akan merasa nyaman untuk tumbuh dan berproses di organisasi tersebut. Salah satu cara yang baik dalam merealisasikan hal ini adalah dengan menanamkan growth mindset dalam setiap anggotanya. Keyakinan dan pemahaman yang teguh bahwasanya kesalahan dan kegagalan merupakan bagian dari suatu proses, bukan hasil akhir yang bersifat absolut.

  3. Taman Bermain yang Asyik: jika teman-teman pernah berkunjung ke taman rekreasi yang menyenangkan, teman-teman tidak akan merasa bosan untuk menetap sedikit lebih lama lagi, bukan? Sama halnya dengan analogi tersebut, organisasi yang dikemas secara menarik dan menyenangkan akan memberikan kesenangan tersendiri bagi para anggotanya. Jika anggotanya merasa senang ketika berada di dalam ruang lingkup organisasi tersebut, mereka akan lebih betah untuk tinggal sedikit lebih lama lagi, bukan?

Kesimpulannya, jika organisasi dapat menjadi rumah yang nyaman untuk dinaungi; kapal yang siap berlayar dan menemani anggotanya menjelajah dan bereksplorasi; serta taman bermain yang asyik yang membuat anggotanya betah untuk berlama-lama tinggal di organisasi tersebut, maka minat berorganisasi dari mahasiswa akan muncul dengan sendirinya jika melihat organisasi kemahasiswaan tersebut se-ideal ini.

Tentunya merupakan PR besar bagi pengurus organisasi tersebut untuk menjamin 3 faktor analogis diatas terpenuhi sembari memperbaiki citra organisasi dengan meyakinkan calon anggota bahwasanya 3 faktor tersebut sudah pasti mereka dapatkan ketika mereka mereka menjadi bagian dari organisasi ini.

Seperti yang diajarkan oleh Marcus Aurelius, seorang kaisar romawi sekaligus penganut filosofi stoik: Jangan buang-buang waktu untuk memperdebatkan orang seperti apa yang disebut sebagai orang baik. Jadilah salah satunya. Maka dari itu sebagai generasi yang diberikan pemahaman yang baik, sudah saatnya kita merubah stigma organiasi yang buruk dan oligarkis menjadi ruang yang seru dan menyenangkan bagi seseorang untuk berproses.